:
:
Belajar Islam
Ini Fadhilah Silaturahmi bagi Seorang Muslim

gomuslim.co.id – Manusia adalah makhluk sosial, disebutkan demikian karena setiap manusia pasti akan membutuhkan manusia lain dalam segala aspek kehidupan. Dalam penerapannya di di zaman sekarang, meski memiliki uang, harta melimpah, manusa tetap membutuhkan oranglain dalam menjalankan roda kehidupan baik secara langsung maupun tak langsung.

Sebagai contoh kongkrit, orang yang kaya raya pun membutuhkan jasa para petani demi menciptakan sepiring nasi terhidang di meja. Semua siswa dan guru membutuhkan oranglain membuat meja belajar, buku-buku, teknologi dan lainnya. Hal itu sudah lebih dari menjelaskan bahwa manusia tak akan sanggup hidup di bumi seorang diri.

Dalam ajaran Islam, kita mengenal hal yang disebut Silaturahmi. Islam tak hanya mengatur urusan manusia dan Allah, namun manusia dengan antar manusia lain. Terlebih hubungan manusia dengan saudara dan kerabat dekat. Menjadi keharusan bagi seorang mukmin untuk mempererat hubungan dengan keluarga yang membesarkan juga kerabat serta tetangga.

Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab,

“Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5983)

 

Makna silaturahim

Silaturahim terdiri dari dua kata: shilah dan ar Rahim. Shilah artinya menyambung. Dalam Mu’jam Lughatil Fuqaha disebutkan: “shilah adalah isim mashdar. washala asy syai’u bisy syai’i artinya: menggabungkan ini dengan itu dan mengumpulkannya bersama”

Sedangkan ar rahim yang dimaksud di sini adalah rahim wanita, yang merupakan konotasi untuk menyebutkan karib-kerabat. Ar Raghib Al Asfahani mengatakan:

 “ar rahim yang dimaksud adalah rahim wanita, yaitu tempat dimana janin berkembang dan terlindungi (dalam perut wanita). Dan istilah ar rahim digunakan untuk menyebutkan karib-kerabat, karena mereka berasal dari satu rahim”

Dengan demikian yang dimaksud dengan silaturahim adalah menyambung hubungan dengan para karib-kerabat. An Nawawi rahimahullah menjelaskan:

“Adapun silaturahim, ia adalah berbuat baik kepada karib-kerabat sesuai dengan keadaan orang yang hendak menghubungkan dan keadaan orang yang hendak dihubungkan. Terkadang berupa kebaikan dalam hal harta, terkadang dengan memberi bantuan tenaga, terkadang dengan mengunjunginya, dengan memberi salam, dan cara lainnya”.

Ibnu Atsir menjelaskan:

 “Banyak hadits yang menyebutkan tentang silaturahim. Silaturahim adalah istilah untuk perbuatan baik kepada karib-kerabat yang memiliki hubungan nasab, atau kerabat karena hubungan pernikahan, serta berlemah-lembut, kasih sayang kepada mereka, memperhatikan keadaan mereka. Demikian juga andai mereka menjauhkan diri atau suka mengganggu. Dan memutus silaturahim adalah kebalikan dari hal itu semua” (An Nihayah fi Gharibil Hadits, 5/191-192, dinukil dari Shilatul Arham, 5).

Dengan demikian, perbuatan baik dan menyambung hubungan terhadap orang yang tidak memiliki hubungan kekerabatan dan nasab tidaklah termasuk silaturahim, dan tidak termasuk dalam ayat-ayat dan hadits-hadits mengenai perintah serta keutamaan silaturahim.

 

 

Menurut Pengasuh pondok pesantren Darussalam Jatibarang Kidul, Jatibarang, Brebes, Jawa Tengah KH Syeh Sholeh Basalamah, dosa antara manusia dengan Allah lebih ringan dibandingkan dengan dosa dengan sesama manusia. Jalan ampunan dengan Allah sangat banyak. Sedangkan dosa dengan manusia akan repot.

Dia menjelaskan, ada sepuluh langkah terpuji dari silaturahmi:

Pertama, mendapatkan ridlo Allah SWT karena Dialah yang memerintahkan silaturahim.

Kedua, membuat gembira sanak saudara. "Sesungguhnya amal yang paling utama adalah membuat gembira orang mukmin," ujar Syeh Soleh.

Ketiga, lanjutnya, dengan silaturahim akan menggembirakan malaikat karena malaikat senang kalau ada orang bersilaturahim. Keempat, mendapatkan pujian baik dari orang muslim.  Kelima, menjadikan susah iblis laknatullah untuk menggoda manusia.

 

 

Keenam, menambah umur, ketujuh mendapatkan berkah dalam rejeki.

Kedelapan, menggembirakan orang orang yang meninggal dunia.

Kesembilan, bertambah erat tali persaudaraan.

Dan kesepuluh, menambah pahala setelah ia meninggal, karena sanak kerabat akan selalu mendoakan setelah meninggal. Orang akan selalu mengingat jasa-jasa silaturahim maka saat meninggalpun diberi kiriman doa oleh orang-orang yang mengenalnya. (nov/dbs)

 

 Wallahu A'lam Bishowwab

 

 

Sumber :

Syarh Shahih Muslim

Ruh al Ma’ani Pdf

NU Online

Responsive image
Other Article
Responsive image