:
:
Belajar Islam
Tunaikan Shalat Sesuai Sunnah Rasul,  Begini Ketentuannya

gomuslim.co.id – “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Qur’an dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah diri dari perbuatan keji dan ungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”, QS. Al Ankabut (29) ayat 45.

Shalat adalah Rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim dan muslimah. Shalat merupakan tiang agama yang wajib ditegakkan dan dikokohkan. Shalat adalah sebaik-baik amal. Shalat adalah cahaya kehidupan seorang mukmin. Shalat adalah amal yang membawa keselamatan di dunia dan akhirat. Shalat adalah amal yang membawa ketenangan hati dan barakah. Shalat juga sebagai jalan menuju surga.

Shalat adalah amal yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat. Shalat merupakan hubungan antara hamba dengan Rabb-Nya yang wajib dilaksanakan lima waktu sehari semalam, sesuai petunjuk Rasulullah SAW sebagai sabda beliau:

“Shalatlah, sebagaimana kalian melihat aku shalat,” HR Al Bukhari no. 631, 6008, 7246

Para ulama fiqih telah berbicara tentang sifat (tata cara) shalat Nabi SAW. Hal itu karena syarat diterimanya ibadah ada dua:

  1. Ikhlas karena Allah SWT semata.
  2. Ittiba’ (mengikuti contoh) Rasulullah SAW.

Shalat wajib dikerjakan dengan ikhlas dan ittiba’ serta shalat wajib dikerjakan dengan khusyuk dan thuma’ninah. Oleh karena itu, beruntunglah orang yang mengerjakan shalat dengan khusyuk dan Thuma’ninah.

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orag-orang yang khusyuk dalam shalatnya,” QS. Al Mu’minun (23) ayat 1-2.

Sahabat, berikut tuntunan shalat yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Wajib Bersuci dan Hadast Besar dan Hadast Kecil

Sebelum mengerjakan shalat maka wajib bersuci dengan sempurna, yaitu berwudhu dengan sempurna, karena tidak akan diterima shalat tanpa bersuci. Berdasarkan firman ALLAH SWT:

“Wahai orang-orang yang beriman!Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan basuhlah kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Jika kamu junub maka mandilah…” QS. Al – Ma’idah (5) ayat 6).

Dari hadist Ibnu Umar ra, Nabi SAW bersabda:

“Allah tidak akan menerima shalat (yang dikerjakan) tanoa bersuci,” HR. Muslim no.224, Ahmad (II/19-20, 39, 51, 57, 73), at-Tirmidzi no.1.

Pakaian Menutup Aurat dan Harus Bersih dari Najis

Setiap muslim dan muslimah apabila ia hendak mengerjakan shalat, maka ia wajib memakai pakaian yang menutup auratnya.

Aurat pada lak-laki mulai dari pusat (pusar) sampai kelututnya, aan tetapi hendaklah ia menutup kedua pundaknya. Adapun pakaian laki-laki tidak boleh Isbal, artinya tidak boleh melewati kedua mata kaki. Hendaklah shalat dengan pakaian yang tidak ketat atau transparan karena di khawatirkan terbentunya aurat qubul dan dubur yang membuat shalat tidak sempurna.

Sedangkan perempuan diwajibkan menutup seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan tepalak tangan. Jadi pakaian wanita di luar shalat yang menutupi seluruh tubuhnya yang sesuai syariah itulah pakaian yang dipakai di dalam shalat sehingga tidak perlu lagi menggunakan mukena (pakaian shalat).

Selain itu, pakaian yang digunakan untuk shalat harus bersih dari najis, Dalilnya firman Allah SWT:

“Dan bersihkanlah pakaianmu,” QS. Al Muddatstsir (74) ayat 4

Menghadap Kiblat

Bila seseorang melaksanakan shalat, wajib menghadap kiblat, sebagaimana Rasulullah SAW ketika hendak mengerjakan shalat fardhu maupun shalat sunnah, beliau berdiri menghadap Ka’bah/Kiblat. Allah SWT berfirman:

“….Maka palingkanlah wajahmu kea rah Masjidil Haram….” QS. Al Baraqarah (2) ayat 144.

Dari Ibnu Umar ra, ia berkata: “Pada saat orang-orang sedang mengerjakan shalat Subuh di masjid Quba, tiba-tiba datanglah seseorang seraya berkata: ‘Sungguh, tadi malam Beliau mendapatkan perintah menghadap Ka’bah (ketika shalat), maka menghadaplah (diri mereka) kea rah Syam (Baitul Maqdis), lalu mereka berbalik arah untuk menghadap Ka’bah.” HR. Al Bukhari No. 403, 4488, 4491, 4493, 4494, 7251, Muslim No.526(13).

Akan tetapi, diperbolehkan tidak menghadap Kiblat pada eberapa keadaan, di antaranya ketika sedang berada di atas kendaraan saat safar.

Dari Abdullah bin Umar ra, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah melakkukan shalat sunnah di atas hewan tunggangan beliau kemana saja hewan itu menghadap dan beliau melakukan shalat Witir di atasnya.” HR. Al Bukhari No. 999, 1000, 1096, 098, 1105.

Berdiri

Rasulullah SAW berdiri tegak ketika menunaikan shalat fardhu (wajib) maupun shalat nafilah (sunnah). Beliau, Rasulullah SAW mengikuti perintah ALLAH SWT:

“…Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” QS. Al Baqarah (2) ayat 238.

Seseorang wajib shalat dengan beridir, kecuali jika tidak mampu berdiri maka diperbolehkan dengan duduk atau berbaring, contohnya sedang sakit.

Dari Imran bin Hushain ra, ia menuturkan: “Aku pernah mengidap penyakit bawasir (ambeien), lalu aku bertanya kepada Rasulullah SAW, beliaupun menjawab: ‘Shalat dengan berdiri. Apabila kamu tidak bisa, maka dengan duduk. Dan apabila kamu tidak bisa juga maka dengan berbaring.” HR. AL Bukhari No. 1117, Abu Dawud No. 952.

Berniat

Hendaklah seseorang meniatkan shalat yang ia akan laksanakan dengan menentukannya dengan hatinya. Seperti (meniatkan) shalat Zuhur, Ashar, Maghribm Isya, dan SUbuh, atau meniatkan shalat-shalat sunnah yang akan dikerjakan.

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin AL Khaththab ra, ia berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya segala amal erbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang itu akan mendapatkan balasan sesuai niatnya…” HR Bukhari No.1, Muslim No. 1907.

Niat tempatnya di hati, tidak dilafadzkan (diucapkan dengan lisan).

Imam Ibnu Abil Izz al-Hanafi Rohimahullah berkata: “Tidak ada seorang ulama pun dari imam (madzhab yang) empat, tidak juga asy-Syafi’I maupun yang lainnya, yang mensyaratkan untuk melafadzkan niat. Menurut kesepakatan mereka, niat itu tempatnya di hati. Ada sebagian orang belakangan yang mewajibkan seseorang melafadzkan niatnya dalam shalat, dan pendapat itu digolongkap sebagai madzhab asy-Syafi’I ?!, Imam an Nawawi Rahimahullah berkata: “Itu tidak benar”.

Takbir

Nabi SAW memulai shalatnya dengan mengucapkan takbir (Allahu Akbar), yang disebut dengan takbiratul ihram. Dan takbiratul ihram termasuk rukun shalat.

Dari Abu Humaid ad-Sa’idi ra, ia berkata: ‘Rasulullah SAW apabila berdiri untuk shalat, beliau menghadap Kiblat, mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan ‘Allahu Akbar’ (Allah Mahabesar),” HR. Ibnu Majah no. 803.

Mengangkat Kedua Tangan

Disunnahkan mengangkat kedua tangannya dengan tidak mengelkan jari-jemari dan tidak pula merenggangkannya. Kedua telapak tangan dihadapkan ke kiblat dan diangkat setinggi bahu atau sejajar dengan kedua daun telinga bagian atas.

Dari Abdullah bin Umar ra, ia berkata: “Aku melihat Nabi Muhammad SAW memulai takbir dalam shalat, maka beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga keduanya sejajar dengan kedua bahunya.” HR. Al Bukhari No. 738.

Dari Ibnu Umar ra, ia berkata: “Rasulullah SAW apabila berdiri untuk shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga keduanya sejajar dengan kedua bahunya, kemudian bertakbir.” HR. Muslim No. 390 (22), Abud Dawud No. 722.

Meletakkan Tangan Kanan di Atas Tangan Kiri dan Bersedekap di Dada

Rasulullah SAW meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya (bersedekap).

Dari Wa-il bin Hujr ra, ia mengatakan: “Aku berkata: ‘Sungguh, aku melihat shalatnya Rasulullah SAW, bagaimana beliau melakukan shalat. Maka aku melihat beliau berdiri lalu bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga keduanya sejajar dengan kedua telinganya, kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung tangan kirinya, pergelangan tangan, dan lengan bawah.” HR Muslim No.402.

Kemudian Rasulullah SAW meletakkan kedua tangannya tersebut di dada.

Dari Wa-il bin Hujr ra, ia berkata: “Aku pernah shalat bersama Rasulullah SAW, dan beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya dan di letakan di dadanya,” HR. Ibnu Khuzaimah No.479.

Dari hadist di atas di jelaskan bahwa meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dan kemudian di letakkan di dada, bukan didekat leher, bukan di perut, bukan di bawah pusat, dan bukan pula di bagian kiri bawah dada atau kiri lambung.

Hikmah bersedekap menunjukan kepada ketundukan, kekhusyukan, dan merasa hna di hadaoan Allah Azza Wajalla.

Memandang Tempat Sujud

Apabila Shalatm Rasulullah memandang ke tempat sujudnya.

Dari Aisyah ra, ia mengatakan: “Rasulullah SAW memasuki Ka’bah, pandangan beliau tidak pernah berpaling dari tempat sujudnya hingga beliau keluar dari dalam Ka’bah,” HR Al- Hakim (I/479 dan Al Baihaqi (V/158).

Membaca Doa Istiftah (Iftitah)

Kemudian Rasulullah SAW membuka shalatnya dengan membaca doa Istiftah (Iftitah). Membaca doa iftitah hukumnya sunnah menurut kebanyak para ulama.

Membaca Basmallah dengan Sirr (tidak dikeraskan)

Nabi Muhammad SAW membaca basmalah dengan sir dan tidak men-jahr-kan (tidak mengeraskan suaranya).

Dari Anas bin Malik ra, Ia berkata: “Aku pernah shalat di belakang Rasulullah SAW, dan di belakanga Abu Bakar, Umar, dan Utsman, maka mereka semua tidak men-jahr-kan (mengeraskan) bacaan “Bismillah Hirrohman Nirrohiim” HR. Muslim no.399, HR Ahmad (III/179, 275).

 

Membaca Surah Al-Fatihah dan Membaca Surah lain.

Rasulullah SAW membaca surah Al-Fatihah denga berhenti ayat demi ayat hingga akhhir surah. Demikian pula cara Rasulullah membaca ayat dalam al Qur’an setelah menyelesaikan membaca Al Fatihah. Terkadang Rasulullah memanjangkan bacaannya dan terkadang memendekannya. Dan Rasulullah membaca Al-Fatihah dalam setiap rakaatnya.

Rukuk

Setelah Nabi SAW telah selesai membaca Al Qur’an, beliau diam sebentar, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya (seperti yang telah di sebutkan dalam bab takbir), lalu beliau bertakbir dan rukuk.

“…Beliau (Rasulullah SAW) bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga keduanya sejajar dengan bahunya, kemudian beliau rukuk dan meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua lututnya, beliau meluruskan tulang punggungnya, dan beliau tidak menekuk (menundukkan) kepalanya dan tidak juga mendongakkannya. Kemudian beliau angkat kepalanya dan mengucapkan ‘Sami’allahu liman hamidah’…” HR. Al Bukhari dalam Raf’ul Yadain No. 20-22.

I’tidal (Berdiri setelah Rukuk)

Kemudian Nabi SAW bangkit dari rukuk, mengangkat kedua tangannya, dan meluruskan punggungnya samba mengucap ‘Sami’allahu liman hamidah’ (Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya).

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasullah SAW bersabda: “Apabila mengucapkan” Sami’allahu liman hamidah, maka ucapkanlah: Allahumma Rabbana Lakal Hamdu (Ya Allah Rabb kami, bagi-Mu-lah segala puji, karena sesungguhnya barngsiapa yang ucapannya bersamaan dengan ucapan malaikat, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan di ampuni” HR Al Bukhari No. 796, Muslim No.409, Abu Dawud No.848.

Sujud

Kumudian Nabi SAW bertakbir dan turun untuk sujud. Turun sujud dengan mendahulukan kedua tangan sebelum kedua lutut.

Dari Ibnu Umar ra bahwasanyya ia meletakkan kedua tanggannya sebelum kedua lututnya, dan ia mengatakan:’Rasulullah SAW melakukan hal itu,” HR. Ibnu Khuzaimah No.627.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: ‘Rasulullah SAW bersabda: ‘Apabila salah seorang diantara kalian sujud, janganlah ia turun seperti unta enderum. Hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.” HR. Ahmad (II/381), Abu Dawud No.840.

Kemudian Rasulullah bertopang dengan kedua telapak tangan dan membentangkan keduanya. Lalu merapatkan jari-jemari tangan dan menghadapkannya ke arah kiblat. Dan meletakkan telapak tangan sejajar dengan kedua bahu dan boleh juga meletakkannya sejajar dengan kedua telinga. Serta menekan dan menempelkan hidung dan dahi pada tanah (lantai). Menekankan kedua lutut dan bagian depan jari telapak kaki ke tanah. Menghadapkan punggung kedua kaki dan ujung-ujung jari kaki kea rah kiblat. Dan menegakkan telapak kaki dan merapatkan kedua tumit.

Dari Al Bara bin Azib ra, ia berkata: ‘Nabi SAW melakukan sujud dengan kedua telapak tangannya,” HR. Ahmad (IV/295).

Dari Wa’il bin Hujr ra, ia berkata: ‘Bahwa Nabi SAW apabila sujud, beliau merapatkan jari-jemarinya.” HR. Ibnu Khuzaimah No.642.

Dari Abu Humaid ad-Saidi ra, Bahwa Nabi SAW apabila sujud, beliau menekankan hidung dan dahinya ke lantai, merenggangkan kedua tangannya dari kedua pinggangnya, dan meletakkan kedua telapak tangannya sejajar dengan kedua pundaknya.” HR. Abu Dawud No.734, At-Tirmidzi No.270.

Dari Ibnu Abbad ra, ia berkata: ‘Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidak ada shalat (tidak sempurna) bagi orang yang hidungnya tidak ditempelkan pada tanah (lantai) sebagaimana ditempelkannya pada dahi.” HR. Ad-Daraquthni No.1303.

Tidak menghamparkan (menempelkan) lengan tangan pada tanah (lantai).

Dari Abu Humaid as-Saidi ra, ia berkata: “…. Apabila sujud, beliau meletakkan kedua tangannya dengan tidak menghamparkannya ke tanah dan tidak pula mengepal keduanya…” HR Bukhari No.828.

 

Bangkit dari Sujud Lalu Duduk di Antara Dua Sujud

Kemudian beliau, Rasulullah SAW bangkit dari sujud seraya mengucapkan Takbir. Beliau bersabda kepada orang yang shalatnya buruk:

“Tidak sempurna shalat seseorang di antara manusia, sehingga …. Ia sujud, hingga ruas-ruas tulangnya mapan (thuma/ninah/tenang), lalu ia mengucapkan ‘Allahu Akbar’, dan mengangkat kepalanya hingga ia duduk dengan sempurna…” HR. Abu Dawud No. 857.

Setelah bangkit dari sujud, Rasulullah SAW membentangkan kaki kirinya dan duduk di atas telapak kaki kirinya dengan tenang. Beliau Rasulullah SAW menegakkan kaki kanannya dan menghadapkan kaki jari-jari kaki kanannya kea rah kiblat.

Dari Aisyah ra, ia berkata: ‘…dan Beliau Rasulullah SAW membentangkan telapak kaki kirinya dan menegakkan telapak kaki kanannya…” HR. Muslim No.498.

Dar Abdullah bin Umar ra, ia berkata: ‘Termasuk Sunnah dalam shalay engkau menegakkan kaki kanan dan menghadapkannya beserta jarijemarinya ke kiblat dan duduk di atas (telapak) kaki kiri,” HR. An-Nasai (II/236).

Bertumpu Pada Kedua Tangan Ketika Bangkit Kerakaat Berikutnya

Kemudian Nabi Muhammad SAW bangkit ke rakaat selanjutnya sambil bertumpu pada tanah dengan kedua tanggannya. Maksudnya adalah, Saat bangkit dari sujud, Rasulullah duduk sejenak (duduk istirahat dan tidak langsung di posisi berdiri setelah sujud) dan kembali beridiri tegak. Pada saat beridir tegak Rasulullah menggunakan kedua tangannya untuk pertumpu dan bangkit dari duduk sejenaknya kemudian berdiri untuk melanjutkan rakaat berikutnya.

Dari al-Arzaq bin Qais, ia berkata: ‘Aku melihat Ibnu umar menggenggam tangannya dalam shalat: bertumpu pada tangannya ketika hendak berdiri. Maka aku mengatakan kepadanya: ‘Apa ini, wahai Abu Abdirrahman?, lalu ia berkata: ‘Ak melihat Rasulullah SAW menggenggam tangannya dalam shalat, yakni saat bertumpu,” HR. Ath Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath (V/16/17, no. 4019).

Tasyahhud

Di Rakaat terakhir, setelah bangkit dari sujud ke dua, Rasulullh duduk utnuk melakukan Tasyahhud. Dan apabila shalat yang beliau lakukan hanya dua rakaat, seperti shalat subuh dan sunnah rawatib, beliau duduk itirasy seperti cara duduk pada duduk di antara dua sujud.

Dari Wa’il bin Hujr ra, Ia berkata: ‘Aku mendatangi Rasulullah, lalu aku melihat beliau memulai shalatnya dengan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan pundaknya, dan juga apabila beliau hendak rukuk. Apabila duduk pada rakaat kedua, beliau menghamparkan telapak kaki kirinya ke belakang dan menegakkan telapak kaki kanannya, meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya dan berisyarat degan jariya untuk berdoa, serta meletakkan tangan kirinya di atas paha kirinya,”

Rasulullah SAW juga meletakkan telapak tangan kanan di atas paha kanan dan meletakkan telapak kirinya di atas paha kiri, dan beliau membentangkan telapak tangannya di atasnya dan beliau berisyarat dengan jari telunjuknya.

Dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah SAW apabila duduk tasyahud, beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya, dan meletakkan tangan kanannya di atas lutut Kanannya, dan beliau membentuk lingkaran dengan angka 53, serta berisyarat dengan jari telunjuknya.” HR. Muslim No. 580 (115).

Apabila beliau memberi isyarat dengan jari telunjuknya, beliau metelakkan ibu jarinya pada jari tengannya.

Dari Abdullah bin az-Zubair ra, ia berkata: ‘…Lalu beliau berisyarat dengan jari telunjuknya dan meletakkan ibu jarinya di atas jari tengahnya, dan telapak tangan kirinya merengkuh (mencengkram) lututnya,” HR. Muslim No.579 (113).

Rasulullah SAW juga mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan menggerak-gerakkan jari telunjuknya saat berdoa dalam tasyahhud.

Dari Wa’il bin Hujr ra, ia berkata: “Sungguh, aku akan melihat shalat Rasulullah, bagaimana cara beliau shalat … kemudian beliau uduk iftirasy di atas kaki kirinya, dan beliau meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya, serta meletakkan bagian ujung sikut kanan di atas paha kanannya, kemudian beliau menggenggam dua jarinya (kelingking dan jari manis) dan membentuk lingkaran (dengan ibu jari dan jari tengah) kemudian mengangkat jari (telunjuknya). Maka aku melihat beliau menggerak-gerakkan telunjuknya sambil berdoa,” HR. Ahmad (IV/318), Abu Dawud No.726, an-Nasai (II/26/127).

Pada Tasyahhud akhir, Rasulullah memerintahkan untuk melakukan hal yang serupa pada tasyad=hud awal, kecuali pada tasyahhud akhir ini beliau duduk dengan tawarruk.

Dari Abu Humaid as-Sai’idi ra, ia berkata: “…Hingga ketika pada rakaat yang terdapat salam didaamnya, beliau meletakkan kaki kirinya ke belakang, dan duduk tawarruk di atas betis kirinya.”

Rasulullah mensyariatkan dalam tasyahud akhir ini untuk membaca shalawat, sebagaimana beliau mensyariatkan hal tersebur pada tasyahud awal.

Memohon Perlindungan Kepada Allah ketika Tasyahhud Akhir

Disunnahkan bagi orang yang shalat, setelah selesai membaca s=tasyahhud akhir dan shalat untuk Nabi SAW, muntuk berlindung kepada Allah Ta’ala dari empat hal yaitu, Adzhab Jahannam, Azhab Kubur, Fitnah Al Masih AD-Dajjal, dan Fitnah Hidup dan Mati.

 “Allahumma Inni Audzubika Minna Adzaa bi Jahannam, wa min adzaabil Kobri, wa min fitnatil mahyaa wal mamati, wa min syarri fitnatil masiyhid dajjal,”

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari Adzhab Neraka Jahannam, Adzhab kubur, fitnah hidup dan mati, dan dari kejelekan fitnah al Masih ad Dajjal,” HR Muslim no. 588.

Salam

Setelah melakukan Tasyahhud akhir, Nabi SAW melakukan salam dengan menengok kea rah kanan dank e kiri hingga terlihat putih kedua pipinya dengan mengucapkan “Assalamu alaikum warahmatullah”, yang artinya “Semoga kesejahteraan dan rahmat dari Allah tercurah atas kalian”.

Dari Abdullah bin Mas’ud ra, bahwa Nabi SAW mengucapkan salam kea rah kanan dan kirinya (Sambil mengucapkan) “Assalamu alaikum warahmatullah” hingga terlihat putih pipinya.” HR Ahmad (I/390, 406, 408, 409, 444, 448) dan Abu Daqud No. 996.

Mengucapkan salam untuk keluar dari shalat adalah salah satu rukun shalat dan salah satu kewajiban dalam shalat, dimana shalat tidak sah kecuali dengannya.

Rasulullah SAW bersabda: “…Dan yang menghalalkannya (maksudnya mengakhiri shaat) adalah salam.”

Hadist ini menunjukan wajibnya mengucapkan salam.

Demikian sahabat, tata cara Shalat Rasulullah. Dari artikel yang di sampaikan di sertakan berupa dalil dari Al Qur’an dan juga Hadist yang merupakan madzhab Syafi’iyah dan merupakan pendapat Jumhur ulama dari generasi Sahabat, Tabi’in dan generasi setelah mereka.

Semoga kita dapat mengikuti shalat yang di Sunnahkan Rasulullah SAW. Wallahu a’alam. (hmz/gomuslim).

 

Sumber: Pustaka Imam Asy-Syafi’i

Responsive image
Other Article
Responsive image
gomuslim
Get it on the play store