:
:
Belajar Islam
Begini Islam Mengatur Tentang Adab Bertamu dan Anjuran Memuliakan Tamu

gomuslim.co.id – Bertamu dan menerima tamu tentu pernah dialami oleh kita semua. Terlebih jika kita sedang ke luar kota, traveling dan sebagainya tentu tak lepas dari yang namanya bertamu. Menerima tamu juga menjadi tak asing bagi kita, selama kita berhubungan dengan manusia lain sebagaimana kebutuhan kita sebagai makhluk sosial.

Silaturahim adalah satu hal yang sangat dianjurkan dalam agama Islam. Selain dapat mempererat hubungan persaudaraan, silaturahim juga dapat memberi banyak manfaat bagi seseorang yang senantiasa menjaga dan melakukannya.

Baru-baru ini juga viral sebuah postingan di facebook yang lalu kemudian heboh sampai sebuah portal online memberitakan postingan tersebut. Postingan itu bercerita tentang kegelisahan seseorang ketika melihat bagaimana sebuah keluarga yang bertamu dan ia menilai sikap keluarga tersebut jauh dari etika. Lalu bagaimanakah seharusnya kita seorang muslim saat bertamu?


Adab Bertamu

Bertamu adalah kegiatan yang positif, bagian dari bentuk menyambung silaturahmi dan harus berdasarkan niat dan tujuan yang baik. Sebagai muslim yang taat dimanapun dan bagaimanapun kondisinya tentulah menjaga akhlak seperti yang Rasulullah contohkan dalam bertutur maupun sikap.

Yang menjadi pokok perbincangan dalam postingan yang viral adalah tentang tamu yang cenderung ‘rakus’ dalam memakan hidangan serta orangtua si anak yang terkesan membiarkan sikap sang anak. Sebaiknya, seorang muslim menjaga adab dan etika sebagaimana norma yang berlaku.

 

 

Rasulullah, panutan seluruh umat Islam dunia adalah sosok yang dikenal karena akhlaknya yang baik. Akhlak yang merupakan pancaran atas ketebalan iman beliau. Adab makan dan minum telah Rasulullah ajarkan yakni salah satunya adalah berhenti makan sebelum kenyang dengan tidak mengikuti hawa nafsu. Terlebih saat sedang bertamu meskipun tuan rumah tak terlihat kesusahan dalam menerima tamu.

Dalam kaitannya dengan adab bertamu, Rasulullah SAW pernah bersabda:

Masa bertamu adalah tiga hari dan sesudah itu sedekah Tidak halal bagi si Tamu tinggal lebih lama sehingga menyakiti hati tuan rumah. (HR Baihaqi). Artinya, sebagai tamu yang berkunjung tentu memperhatikan waktu dan sikap selama bertamu.

Meminta ijin dalam bertamu bisa dilakukan dengan beberapa cara, yakni dengan mengetuk pintu maupun memberi salam kepada tuan rumah. Allah subhana hua ta’ala berfirman dalam surat an-Nur ayat 27:

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. (QS an-Nur : 27)

 

 

Kemudian Rasulullah SAW juga menambahkan perihal meminta ijin untuk bertamu ini dalam sebuah hadis yang artinya:

“Apabila seorang bertamu lalu minta izin (mengetuk pintu atau mengucapkan salam) sampai tiga kali dan tidak ditemui (tidak dibukakan pintu), maka hendaklah dia pulang.” (HR Bukhari)

 

Anjuran Memuliakan Tamu

Islam tak hanya mengatur bagaimana seorang mukmin bertamu dan berhubungan antar sesama muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi teladan tentang anjuran memuliakan para tamu.

Dalam salah satu haditsnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan tentang anjuran memuliakan para tamu.

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia memuliakan tamunya. (HR Muslim).

 

 

Salah satu bentuk memuliakan para tamu adalah dengan cara menjaga adab-adab atau etika yang berlaku tatkala seseorang kedatangan tamu di rumahnya. Memuliakan tamu tentu tidak dengan tujuan bermegah-megah dan berbangga-bangga tetapi bermaksud untuk mencontoh bagaimana Rasulullah maksimal dalam memuliakan tamu.

Dalam kitab Ghida’ al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab, dijelaskan mengenai adab-adab dalam menerima tamu:

“Sebagian adab penerima tamu (kepada tamunya) adalah (1) melayani para tamu (dengan menyediakan jamuan), (2) menampakkan kondisi serba cukup, dan (3) menunjukkan wajah gembira—ada pepatah mengatakan, ‘Menunjukkan wajah riang gembira lebih baik dari memberi suguhan (tanpa disertai wajah yang gembira)’. Adab penerima tamu yang lain adalah (4) mengajak ngobrol para tamu dengan hal-hal yang disukai mereka, (5) tidak tidur terlebih dahulu sebelum mereka pergi atau beristirahat, (6) tidak mengeluh tentang waktu dengan kehadiran mereka, (7) menampakkan wajah berseri-seri ketika para tamu datang, (8) merasa sedih saat mereka pergi, (9) tidak bercakap tentang sesuatu yang  membaut mereka takut, (10) tidak marah kepada siapa pun selama mereka bertamu agar sebisa mungkin tetap tertanam suasana bahagia di hati mereka. Bagi penerima tamu, (11) hendaknya memerintahkan kepada para tamu agar menjaga sandal mereka, (12) memberi sesuatu (oleh-oleh) kepada anak-anak kecil dari para tamu, dan (12) tidak menunggu orang yang akan datang ketika ia masih menyuguhi jamuan kepada para tamunya,”

 

 

Sumber :

Alquran

Kitab Misykatul Masobih

Kitab Ghida’ al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab

dbs

Responsive image
Other Article
Responsive image
gomuslim
Get it on the play store